Langsung ke konten utama

PENGERTIAN, TUJUAN DAN PRINSIP MANAJEMEN KELAS

PENGERTIAN MANAJEMEN KELAS

Pengertian Manajemen Kelas berasal dari dua kosa kata yakni, manajemen dan kelas, Menurut Eka Prihatin, secara etimologis, kata manajemen merupakan terjemahan dari management (Bahasa Inggris). Kata management tersebut berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen tersebut terkandung dua kegiatan, yaitu kegiatan berpikir (mind) dan kegiatan tingkah laku (action). Sedangkan kelas berarti unit kerja terkecil di sekolah yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan belajar mengajar, sebagai unit terkecil di sekolah, si dalam suatu kelas terdiri dari sekelompok peserta didik dan berbagai sarana belajar.
manajemen kelas yang baik akan menciptakan suasana belajar yang menarik bagi peserta didik

Manajemen Kelas merupakan keterampilan guru sebagai seorang leader sekaligus manager dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk meraih keberhasilan kegiatan belajar-mengajar. Sebagai seorang leader di kelas, guru berupaya memotivasi peserta didik serta menanamkan nilai-nilai kebaikan yang harus diyakini dan diaplikasikan oleh peserta didik. Sementara sebagai seoarang manajer di kelas, guru bertugas mengelola sarana di kelas, mengelola potensi peserta didik serta menggunakan teknologi dalam mengelola kelas agar dapat melahirkan produktifitas kerja, efisisensi, tepat waktu (sesuai dengan rencana pembelajaran), dan kualitas kegiatan belajar-mengajar.
Urgensi Manajemen Kelas Bagi Guru dan Siswa Manajemen kelas sangatlah penting dilakukan karena tanpa adanya kelas yang kondusif, siswa tidak akan dapat menyerap materi yang diberikan oleh guru dengan baik. Seperti yang telah dituliskan dalam latar belakang masalah di muka, banyak sekali hal yang mendasari pentingnya manajemen kelas dalam pembelajaran.
Seorang pendidik atau guru perlu menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dansiswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal.
Selain itu guru juga bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu. Manajemen kelas juga penting sekali mengingat tujuan-tujuan manajemen kelas yang tentu saja akan sangat mempengaruhi profesionalitas seorang guru. 


TUJUAN MANAJEMEN KELAS 
Menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan manajemen kelas adalah sebagai berikut:
  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
  4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
suasana belajar yang menarik akan membuat peserta didik termoivasi dalam mengikuti PBM
Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Perbedaan Manajemen Kelas dan Manajemen Pembelajaran Berikut perbedaan antara Manajemen Kelas dengan Manajemen Pembelajaran:

  1. Manajemen atau pengelolaan kelas merupakan suatu usaha yang dilakuakn oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang diharapkan. Dalam manajemen kelas atau yang disebut dengan pengelolaan kelas yang di dalamnya terdapat unsur ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan, pengadministrasian, pengeturan, atau penataan kegitan yang berlangsung di dalam kelas.
  2. Manajemen pembelajaran berhubungan dengan kurikulum atau dapat diartikan sebagai usaha ke arah pencapaian tujuan-tujuan melalui aktivitas-aktivitas orang lain atau membuat sesuatu dikerjakan oleh orang-orang lain berupa peningkatan minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang siswa (orang yang belajar), dengan memperluas cakupan aktivitas (tidak terlalu dibatasi), serta mengarah kepada pengembangan gaya hidup di masa mendatang, manajemen pembelajaran sebagai berikut: jadwal kegiatan guru-siswa, strategi pembelajaran, pengelolaan bahan praktik, pengelolaan alat bantu, pembelajaran ber-tim, program remedi dan pengayaan, dan peningkatan kualitas pembelajaran. 

PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas Setelah guru dapat memahami konsep dasar manajemen kelas, hal itu tidak menjamin seoarang guru dapat mengelola kelas secara efektif, sebab dalam manajemen kelas terdapat prinsip-prinsip mendasar yang juga harus dipahami dengan baik oleh guru. Ada enam prinsip yang harus dipahami oleh guru dalam pelaksanaan manajemen kelas yang efektif, yaitu:

  1. Hangat dan antusias sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas. 
  2. Tantangan, Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tambahan lagi, akan dapat menarik perhatian anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mereka.
  3. Bervariasi Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan peserta didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian anak didik. Apalagi bila penggunaannya bervariasi sesuai dengan kebutuhan sesaat. Kevariasian dalam penggunaan apa yang disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
  4. Keluwesan, tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.
  5. Penekanan pada hal-hal yang positif, Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal negatif. Penekanan pada hal-hal positif, yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
  6. Penanaman disiplin diri merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri pelaksanaan tanggung jawab.
                TUJUAN PEMBELAJARAN KOGNITIF


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengembangan Pembelajaran TPACK

TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) adalah kerangka konseptual yang dikembangkan oleh Punya Mishra dan Matthew J. Koehler pada tahun 2006. TPACK menggabungkan pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Komponen TPACK 1. *Pengetahuan Konten (Content Knowledge)*: pemahaman tentang materi pelajaran. 2. *Pengetahuan Pedagogi (Pedagogical Knowledge)*: pemahaman tentang metode pengajaran. 3. *Pengetahuan Teknologi (Technological Knowledge)*: pemahaman tentang teknologi. 4. *Pengetahuan Konten-Pedagogi (Pedagogical Content Knowledge)*: integrasi pengetahuan konten dan pedagogi. 5. *Pengetahuan Teknologi-Konten (Technological Content Knowledge)*: integrasi pengetahuan teknologi dan konten. 6. *Pengetahuan Teknologi-Pedagogi (Technological Pedagogical Knowledge)*: integrasi pengetahuan teknologi dan pedagogi. 7. *Pengetahuan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge)*: integrasi pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten. Prin...

MORALITAS ILMU PENGETAHUAN DAN TANGGUNG JAWAB ILMUWAN

Istilah moral berasal dari bahasa Latin,  mos  (jamaknya  mores) , yang berarti adab atau cara hidup. Etika dan moral sama maknanya, tetapi dalam pemakaiannya sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai yang ada. [1] Menurut Imamnuel kant moralitas (Moralitat/Sittlichkeit) adalah kesesuaian sikap dan perbuatan dengan norma atau hukum batiniah, yakni apa yang di pandang sebagai kewajiban. Moralitas akan tercapai apabila mentaati hukum lahiriah bukan lantaran hal itu membawa akibat yang menguntungkan atau lantaran takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan menyadari sendiri bahwa hukum itu merupakan kewajiban. Baca Juga:  ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Immanuel kant Tokoh Filsafat Etika dan Metafisia Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moral...

Manusia sebagai makhluk sosial beserta contohnya

Manusia merupakan makhluk sosial, yang artinya dia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. sebagai makhluk sosial manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. ada beberapa contoh yang mengidentifikasikan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Dalam kehidupan manusia tidak lepas dari kegiatan ekonomi. Dimana kegiatan ekonomi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Contoh: jual beli pasar atau di online shop. Setiap manusia di anugerahi dengan rasa empati dan simpati. Sikap Tolong menolong merupakan salah satu contoh manusia sebagai makhluk sosial.  Setiap manusia pasti mempunyai satu atau lebih sahabat dekat.